Selamat datang di blog kami! Selamat menikmati aktivitas yang kami tuangkan dalam bentuk tulisan. Bila ada pertanyaan seputar aktivitas kami, silakan kirim ke alamat email kami: sekretkasihbangsa@gmail.com. Kunjungi pula situs kami di https://ykbs.or.id - Terima kasih...

Jumat, 21 Juli 2017

Hahhh??!.. masih ada sekolahan seperti ini di Surabaya???



Inilah ceritaku, tentang betapa memilukannya ketimpangan kondisi pendidikan masa kini. Suatu kali ada begitu banyak sumbangan yang diberikan para donatur kepada Yayasan. Berupa perlengkapan sekolah seperti alat tulis, pensil warna, buku-buku dan alat peraga pendidikan. Bantuan itu dikemas dan dipack sesuai jenisnya untuk didistribusikan ke sekolah-sekolah atau pihak-pihak yang membutuhkan. Tempo hari barang-barang serupa dikirimkan ke sebuah sekolah di Manggarai dan mereka menerima barang-barang itu dengan penuh suka cita. Senang sekali rasanya saat melihat senyum anak-anak di sekolah itu dengan seragam baru, tas baru yang di dalamnya penuh dengan buku dan alat tulis.

Selasa, 11 Juli 2017

BISIK-BISIK SEUSAI MISA



Aku hadir pada saat Rm. Gross merayakan 50 tahun imamat. Dia seorang romo kelahiran Perancis. Pada saat homili dalam misa, dia menceritakan sedikit pengalaman hidupnya. Dia lahir di sebuah desa kecil di Perancis saat awal PD II dimana Perancis kalah oleh Jerman. Ayahnya adalah seorang aktivis partai sosialis. Saat Rm. Gross sudah remaja, dia menyatakan keinginannya untuk menjadi imam, ayahnya mempertanyakan keinginannya itu. Tetapi saat dia mengatakan ingin bergabung dengan komunitas St. Vincentius a Paulo, langsung ayahnya menyetujuinya. Bagi kebanyakan orang Perancis, St. Vincentius a Paulo adalah tokoh besar. Dia adalah seorang imam di Perancis yang membela dan peduli pada kaum miskin. Dia dapat dikatakan berusaha membongkar kehidupan Gereja yang semula hanya berkutat pada doa atau sekitar altar dan banyak imam yang mengejar kemewahan dan kenikmatan, menjadi Gereja yang peduli pada kaum miskin. St. Vincentius memberikan pengajaran dan membuat kebijakannya bagi para imam CM dan suster Puteri Kasih yang merupakan suatu gebrakan baru pada jaman itu.

Selasa, 04 Juli 2017

Persembahanku...



Pada hari minggu seperti biasa aku selalu menyempatkan diri untuk pergi ke gereja. Sebelum aku masuk ke gereja biasanya terlebih dahulu aku memarkirkan motor ke tempat parkir yang sudah disediakan oleh pihak gereja. Setelah selesai memarkirkan kendaraan, aku bergegas berjalan menuju ke gereja yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat parkir. Dalam perjalananku menuju gereja tersebut aku selalu mendapati Bapak dan Ibu tua yang biasa mencari rejeki di sepanjang jalan menuju gereja dengan cara menadahkan mangkok kecil sembari menunggu belas kasih dari umat yang melintasi di depan mereka.

Rabu, 21 Juni 2017

Warisan Keluarga Penjual Nasi Goreng



Sore itu, matahari mulai terbenam perlahan di sisi barat. Ayam tengah berbaris menuju kandangnya. Gerobak nasi goreng lengkap dengan nasi putih, bumbu, sayur, kompor dan wajan sudah siap menyambut pembeli.

Ahmadi (35) yang saban malam bergelut dengan panasnya wajan segera bergegas menggunakan celana selepas sholat magrib. Tak lama kemudian ia mendorong gerobak nasi goreng menyusuri jalan-jalan di Bendul Merisi Wonokromo Surabaya.

Bermodalkan suara, ia memanggil konsumen sepanjang jalan yang ia lalui dengan kata "nasi goreng" hingga berkali-kali.

Jumat, 16 Juni 2017

BERSATULAH PELACUR-PELACUR

Malam ini hujan gerimis, meski tadi bulan hampir penuh sempat muncul. Semula kupikir malam akan cerah, ternyata gerimis turun meski bulan masih tampak mengambang di sela pepohonan. Alam kadang membingungkan. Suara air hujan yang berdentang menghantam atap seng tidak mampu mengalahkan suara Rendra yang penuh emosi saat membawakan puisi-puisinya. Beberapa hari lalu aku mendowload beberapa mp3 saat Rendra membacakan puisi-puisinya. Dua puisi karya Rendra yang kusukai yaitu Nyanyian Angsa dan Bersatulah Pelacur-Pelacur Jakarta.

Jumat, 02 Juni 2017

Impian hidup Iyan...

Muhammad Mujianto, lahir di Surabaya 4 Maret 2004.  Anak bungsu dari dua bersaudara ini sudah tidak lagi memiliki orang tua. Ibunya sudah meninggal semenjak Ia berumur 11 tahun, sedangkan ayahnya sampai saat ini tidak tahu entah dimana keberadaanya.

Iyan pernah bersekolah di salah satu SD di Surabaya, tetapi hanya sampai kelas 4 SD saja. Hal ini disebabkan lantaran anak ini merasa tidak diperhatikan oleh wali kelasnya dan merasa tak nyaman sekolah di tempat tersebut. Iyan mencontohkan saat bel pulang sekolah berbunyi, tiap – tiap anak baris di kelas untuk berpamitan dengan wali kelas. Ketika tiba giliran Iyan, sang guru tak menggubris sama sekali dan membiarkannya melintas begitu saja. Ada hal lain juga yang menyebabkan Iyan enggan untuk kembali lagi bersekolah. Ternyata menurut pengakuan Iyan, jika di sekolah tidak ada yang mau berteman dengannya. Kebanyakan dari teman – teman cowoknya yang tidak mau berteman dengannya malah mengajak ia bertengkar dengan teman cowok yang lainnya.

Jumat, 26 Mei 2017

Ketika Intoleransi Menista Bangsa

Pada tanggal 21 Mei 2017 yang lalu, Pusat Pengembangan Sosial (PPS) – Yayasan Kasih Bangsa Surabaya mengadakan sarasehan dengan tema “Ketika Intoleransi Menista Bangsa”. Acara diadakan di sekretariat PPS Jl. Kinibalu 41 Surabaya dengan dihadiri oleh sekitar 50-an orang yang mewakili kelompok-kelompok pendampingan masyarakat sipil yang ada di Surabaya, Sidoarjo dan Probolinggo serta perwakilan sie Kerawam dari beberapa Paroki yang ada di Surabaya.